Minggu, 30 September 2012

Cinta Tak harus memiliki


“ Cinta tak harus memiliki “

                Aku Nadiya, Perkenalanku dengannya berawal saat kita bersekolah disekolah yang sama. Aku mengenalnya dari temanku (Tasya), kebetulan Tasya adalah teman dekat Nino saat itu. Awal nya aku tak ada perasaan apa-apa dengannya tetapi seiring berjalannya waktu kita mulai dekat antara satu dengan yang lain dan aku adalah tipe cewek yang susah untuk jatuh cinta tapi kali ini aku merasakan sebuah perasaan yang baru kali ini kurasakan walaupun aku sudah beberapa kali mengenal cowok tetapi perasaan yang ini sangat berbeda.

                Nino pun sering datang kerumahku dan kita pun sering keluar ke tempat-tempat dimana kita bisa berdua, bisa tenang dan sekalian mencari tempat yang sesuai buat foto-foto karena pekerjaan sampingan Nino adalah sebagai fotografer dan aku sebagai modelnya walaupun aku tak terlalu pandai dalam berpose tetapi Nino masih tetap memaksa ku untuk berpose didepan kameranya.

                Nino adalah seseorang yang spesial diantara yang lain karena Nino bisa menjagaku, membuatku bahagia, dan ada disaat aku butuh tetapi Nino sudah tiada, dia meninggalkanku bukan karena ada seseorang diantara kita tetapi dia pergi karena dia mengalami kecelakaan yang sangat tragis saat pergi denganku.

>> 2hari yang lalu sebelum kejadian itu adalah tanggal jadian ku dengan Nino yang sudah genap 3thn, Nino mengajakku makan malam disebuah restoran tempat biasa kita makan.
                Nino : “ Happy Aniversday Sayang, aku beruntung karena kau sampai saat ini masih denganku dan ku berharap selamanya akan begitu. Dihari yang spesial ini aku ingin mengatakan bahwa aku sayang sama kamu dan kuberharap kau mau menjadi pasanganku untuk selamanya (Sambil mengeluarkan cincin emas putih untuk Nadiya)”
                Nadiya : “Happy Aniversday juga Sayang, terima kasih karena kau masih menghadirkan cintamu untukku dan Apa tanda cincin itu.?”
                Nino : “Aku ingin kau menjadi istriku dan aku mau menjadi suami mu. Kuharap kau mau menerima cincin ini. Jika cincin ini kau terima, besok pagi ku akan kerumahmu untuk melamar mu sebagai istriku secara sah dihadapan orang tua mu dan orang tua ku.”
                Nadiya : “Aku mau jadi istrimu dan aku juga mau kau menjadi suami ku karena ku sudah yakin dengan mu, karena orang tua ku sudah yakin bahwa kau bisa membahagiakan ku lahir dan batin. Jika kau ingin melamarku dihadapan orang tua mu dan orang tua ku, aku menerima nya dengan senang karena selama ini yang aku ingin akhirnya terkabul juga”.
                Nino :  “I Love You Sayang (sambil memasangkan cicncin dijari tengah Nadiya)”
                Nadiya : “I Love You To Sayang”
                Malam itu adalah malam terakhir kita makan berdua dan akan kuingat semua kenangan ku bersama Nino selama 3thn ini walaupun pahit untuk dikenang tetapi terlalu manis dan terlalu indah untuk dilupakan. Keesokan harinya, Nino beserta semua keluarganya datang kerumahku untuk melamarku secara sah dihadapan orang tua ku.

                Ayanda Nadiya : “Ada apa kau kemari membawa rombongan sebanyak ini.?”
                Ayanda Nino : “Aku ingin melamar anakmu untuk anakku”.
                Ayanda Nadiya : “Apakah anakmu dapat membahagiakan anakku lahir dan batin.?”
                Ayanda Nino : “Ku yakin bahwa anakku dapat membahagiakan anakmu lahir dan batin”.
                Ayanda Nadiya : “Jika begitu, ku titipkan anakku kepada anakmu”
                Ayanda Nino : “Baiklah”

                Pada hari itu, Nino resmi melamar Nadiya dan hari itu juga mereka bertunangan. Nino dan Nadiya tak ingin terburu buru sehingga mereka masih belum memutuskan tanggal berapa mereka menikah, mereka hanya bertunangan saja.

*******

                Keesokan harinya, hari ini adalah hari terakhir Nadiya berjumpa dengan Nino. Pagi ini mereka ingin mengunjungi tempat rekreasi yang ada di kota Bandung, Jawa Barat dengan mengendarai mobil pribadi Nino dan mereka hanya berdua saja. Sesampai disana mereka berbicara tentang perasaan mereka.

                Nino : “Kamu sayang gak sama aku.?”
                Nadiya : “Kenapa tanya seperti itu.? Tumben banget”
                Nino : “Gpp Cuma mastiin aja kalau kamu beneran syang sama aku”
                Nadiya : “Aku sayang sama kamu kalau gak sayang gak mungkin kemaren aku terima
                                   Lamaran kamu”.
                Nino : “Sebesar apa rasa sayangmu.?”
                Nadiya : “Sebesar rasa sayangmu kepadaku”.
                Nino : “Sayang, jika aku pergi gimana.?”
                Nadiya : “Pergi kemana.?”
                Nino : “Pergi dari hidupmu entah untuk sekejap atau untuk selamanya”.
                Nadiya : “Hust, gak boleh ngomong gitu. Kita akan tetap bersama sampai maut memisahkan
                                   Kita”.
                Nino : “Amin J”.

                Sementara itu hari semakin malam dan hujan pun mulai turun. Nadiya meminta untuk mencari penginapan daerah situ tetapi Nino tak mau karena dia tak ingin membuat orang tua mereka cemas lagi pula sudah lumayan mulai sampai. Dan mereka pun memutuskan untuk meneruskan perjalanan.

                Nadiya : “Sayang, aku lapar. Cari makan dulu yuk. !”
                Nino : “Iya, nanti kalau ada tempat makan kita berhenti dulu.”
                Nadiya : “Oke”

                Saat diperjalanan mereka bertemu dengan warung dan mereka berhenti sejenak untuk mengisi perut mereka yang sudah berteriak “LAPAR .. LAPAR .. LAPAR”.

                Nino : “Sayang, disitu ada warung. Kita makan dulu ya.?”
                Nadiya : “Iya J”.

                Selesai mengisi perut mereka langsung melanjutkan perjalanan dan mereka berbincang bincang saat di perjalanan.

                Nino : “Sayang kalau aku pergi gimana.?”
                Nadiya : “Kenapa tanya itu terus.?”
                Nino : “Tadi kamu kan belum jawab”
                Nadiya : “Aku pasti bersedih kalau kamu pergi”.
                Nino : “Tapi aku gak mau kamu bersedih”.
                Nadiya : “Kalau begitu jangan pergi”.
                Nino : “Iya. Sayang, kalau aku pergi kamu jangan menangis ya karena aku sudah tak bisa
                                Menghapus air matamu”,
                Nadiya : “Jangan ngomong gitu ah.!”
                Nino : “Kamu harus janji dulu kalau kamu gak bakalan nangis”
                Nadiya : “Iya, aku janji”
                Nino : “Gitu dong”.
                Nadiya : “Sayang aku sayang kamu”.
                Nino : “Aku juga sayang kamu sayang”.

                Itu kata sayang terakhir yang diucapkan Nino untuk Nadiya. Disepanjang perjalan Nino hanya melihat wajah Nadiya hingga air matanya jatuh dan saat itu juga, Nino tak sadar bahwa didepan ada jurang yang begitu curam yang dapat mempertaruhkan nyawanya dan nyawa tunangannya. Dan akhirnya mobil yang dikendarai Nino masuk jurang yang sangat dalam dan mobilnya pun terbalik.

                Nadiya sadar dan segera keluar mencari bantuan untuk menolong  Nino yang baru kemarin melamarnya, tetapi baru beberapa langkah Nadiya keluar tiba-tiba terdengar suara ledakan dibelakangnya. Nadiya menangis dan hanya terdiam ketika dia melihat bahwa mobil yang ditumpanginya tadi meledak sedangkan didalamnya masih ada Nino. Nadiya hanya bisa menangis dan berusaha untuk menolong Nino tapi Api tak kunjung mati walaupun pada saat itu terjadi hujan lebat.
                Setelah Si jgo merah telah padam, Nadiya langsung menghampiri dan memeluk Nino yang sudah tak bernyawa dan segera menghubungi keluarganya.

                Nadiya : (sambil menangis dan memeluk tubuh Nino) “Kenapa kau pergi tinggalkan ku.? Memang ku sudah berjanji untuk tidak menangisimu saat kamu pergi tapi aku tak bisa menepati janjiku karena aku saat ini ditinggalkan oleh orang yang ku sayang, orang yang sudah membuatku mengerti apa arti kehidupan sesungguhnya, orang yang selama ini bersama ku selama 3th. Sayang kembalilah, jangan tinggalkan aku.! Aku sayang kamu” L

                Nadiya hanya menangis memeluk ibunya ketika dia menuju perjalan pulang kerumahnya, dia menyesal kenapa dia gak paksa Nino untuk menginap di sekitar situ saja. Sesampai dirumah, Matahari sudah memancarkan sinarnya dan Nino langsung dimakamkan hari itu juga.

                Nadiya sadar cinta itu tak harus memiliki, cintailah seseorang yang saat ini mencintaimu J


1 komentar: